Oleh: kiesaputra | Sabtu, 18 Juni, 2011

Sulitnya Menjadi Obyektif

Pegolf profesional adalah pegolf yang menjadikan bermain golf sebagai pekerjaan. Pegolf profesional diperbolehkan menerima hadiah uang dalam sebuah turnamen profesional. Untuk menjadi pegolf profesional, seorang pegolf perlu mengikuti semacam kualifikasi. Setelah lulus kualifikasi inilah seorang pegolf dapat menyandang predikat pegolf profesional dan berhak memegang kartu tanda pegolf profesional.

Bagi seorang pemain golf profesional, selalu memimpikan untuk bisa mendapatkan hole in one yaitu memasukkan bola dari teeing ground ke lubang dalam satu kali pukulan. Biasanya hole in one hanya terjadi pada hole ber-par 3. Untuk itu diperlukan teknik memukul yang baik dan stik golf (club) yang baik.

Ada tiga tipe stik golf (club) yaitu: wood, iron, dan putter. Wedge adalah iron yang digunakan untuk memukul pada jarak yang pendek. Wood digunakan untuk memukul jarak yang sangat jauh. Sedangkan iron pada jarak menengah. Putter hampir selalu digunakan untuk melakukan pukulan di atas green.

Harga stick golf (club) ini tidaklah murah, mulai ratusan ribu sampai puluhan juta. Tetapi tetap saja orang membeli stick ini walaupun dia telah memilikinya?
Kenapa?
Karena dia menilai bahwa setiap kegagalan pada pukulannya adalah kesalahan dari stick golf (club) nya, bukan karena kesalahan perhitungan matematikanya dan gerakan pukulan tangannya.  Sehingga ia akan tetap membeli dan membeli stick golf yang baru yang menurutnya akan meningkatkan performa pukulannya.

* * * * *
F L A S H B A C K

Pernah mendengar pepatah, buruk rupa cermin dibelah ?

Pada dasarnya manusia mempunyai kecenderungan untuk menilai dirinya sendiri lebih baik dari yang lainnya, merasa dirinya yang paling benar, merasa dirinya paling mampu, dan lain sebagainya. Sangat jarang yang bisa memberikan penilaian yang obyektif terhadap dirinya sendiri.

Kesalahan penilaian atas diri sendiri bisa berakibat penderitaan yang berkepanjangan baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Seorang suami yang salah menilai dirinya selalu menyalahkan istrinya yang sudah mati-matian memperjuangkan dan mempertahankan kehidupan keluarganya.

Seorang pimpinan yang salah menilai dirinya selalu menyalahkan dan tidak bisa menerima hasil pekerjaan yang dikerjakan oleh bawahannya.

Seorang tokoh masyarakat atau agama yang salah menilai dirinya akan membawa ketidak tenteraman bagi umat dan lingkungannya.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita menilai diri kita dengan benar atau salah?

Mari sama-sama merenungkannya.

-kie-
12-06-2011
(pepenget untuk selalu obyektif dalam menilai diri sendiri)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: