Oleh: kiesaputra | Sabtu, 18 Juni, 2011

Mahalnya Sebuah Kejujuran

“Sing jujur ajur”
(Yang jujur akan hancur)

Mungkin kita tidak asing mendengarkan ungkapan seperti ini, ataukah ungkapan ini benar-benar sudah meresap ke bawah sadar kita sehingga meng-kristal dan menyeruak untuk mempertahankan diri supaya tidak hancur yang harus menjadi tidak jujur (berbuat culas, curang).

Kesadaran komunal tentang ungkapan diatas akan sangat mebahayakan keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara serta hidup bermasyarakat, karena barang siapa yang berusaha bersikap jujur akan dihancurkan oleh orang-orang disekitarnya.

Lihat saja seorang siswa SD Gadel di Surabaya bersama orang tuanya yang ingin menjunjung tinggi sikap dan perilaku jujur akhirnya terpaksa harus mengungsi karena dikecam dan diancam oleh orang tua murid teman sekolah nya yang notabene juga tetangganya. Si IBU yang berusaha mengangkat dan mengajarkan kejujuran kepada anaknya dan mengangkat masalah contek masal malah dihakimi oleh orang tua murid lainnya. Luar biasa!

Akhir-akhir ini kita mendengar kesaksian dari seorang IBU Wa Ode anggota Badang Anggaran DPR yang dalam suatu acara di TV, ibu Wa Ode menyebutkan bahwa terdapat permasalahan mafia anggaran yang dijumpai di Badan Anggaran DPR. Namun malah rame-rame beliau ini dikecam dan dilaporkan ke Dewan Kehormatan oleh Ketua DPR. Aneh bin ajaib!

Hal ini cukup memberikan gambaran bahwa kalau mau bertindak dan mengangkat kejujuran di negeri ini, orang kan berpikir berkali-kali mengingat resiko yang akan ditanggungnya. Negara yang aneh !

Ketidak jujuran sudah menjadi barang umum dan bukan rahasia lagi, kejujuran menjadi barang dan perilaku langka di negeri ini. Ketidak jujuran sudah dilakukan secara terang-terangan, orang sudah tidak merasa malu lagi untuk bertindak tidak jujur, orang merasa tidak malu lagi untuk melakukan kecurangan dan keculasan. Celakanya ketidak jujuran, kecurangan, keculasan sudah merata di berbagai lapiran, mulai lapisan kelas bawah, kelas setengah menengah, kelas menengah, kelas setengah menengah atas, dan kelas atas. Semua lapisan sudah terkontaminasi, sehingga kalau ada yang meneriakkan dan mengangkat kejujuran, seolah-olah dengan serentak dia menjadi ‘public enemy’.
* * * * *
Sing Jujur

Masio tolah-toleh,
Sing penting jujur,
Masio mekekah-mekekeh,
Sing penting jujur.

Masio mondag-mandeg,
Sing penting jujur,
Masio gojag-gajeg,
Sing penting jujur.

Masio mlarat,
Sing penting jujur,
Masio sekarat,
Sing penting jujur.

Masio isik bocah,
Sing penting jujur,
Masio iso polah,
Sing penting jujur.

Percuma pangkat nek ora jujur,
Percuma duwe kuwasa nek ora jujur,
Percuma ketok alim nek ora jujur,
Percuma loman nek ora jujur.

Percuma nggantheng nek ora jujur,
Percuma ayu nek ora jujur,
Percuma nganggo jubah nek ora jujur,
Percuma ibadahe mempeng nek ora jujur.

Jujur … jujur … jujur …. sing penting jujur.

-kie-
18/06/2011
pepenget marang diri pribadi supaya tansah jujur)

Iklan

Responses

  1. masih banyak sebuah kejujuran yg di harapabkan oleh seseorang

  2. kejujuran adalah harga mati

  3. jujur adalah pertanggungjawaban hati kita


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: