Oleh: kiesaputra | Kamis, 31 Juli, 2008

Iman, Harapan dan Kasih

Pengalaman kehidupan dan pengalaman spiritual tidaklah bisa diceritakan atau diturunkan, tetapi harus dijalani sendiri oleh yang bersangkutan.  Sehingga satu orang yang lain tidaklah tepat untuk memberikan penghakiman (judgement) akan pengalaman kehidupan dan spiritual seseorang yang lainnya, karena pengalaman kehidupan dan pengalaman spiritual setiap orang adalah unik, seperti uniknya Tuhan menciptakan setiap orang di dunia ini, TIDAK ADA YANG SAMA.

Suatu sore temanku datang kerumah, seperti biasanya kami ngobrol mulai dari bisnis MLM yang ditawarkan kepadaku sampai pada hal-hal lain yang sedikit menyerempet pada keyakinan dan pengalaman hidup masing-masing.

Temanku bilang, ” Pak, aku lihat kehidupan sampeyan sekarang ini rasanya nggak masuk akal bagiku, kok  sampeyan masih bisa bertahan dalam kondisi seperti ini. Dulu pendapat rutin yang “cukup” masuk setiap bulan, sekarang…….? Tapi herannya sampeyan juga masih bisa makan, anak anak juga masih sekolah disekolah swasta yang ‘bisa dibanggakan’ dengan SPP yang nggak bisa dikatakan murah juga.  Nggak masuk akal…nggak masuk akal…, piye…piye…?”

Hmm… pertama-tama saya megucapkan syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang telah memberi saya kesempatan untuk menjalani “pelajaran” yang sangat berharga ini, dimana dalam fase pelajaran ini saya baru benar-benar bisa merasakan keindahan rahmat Tuhan.  Di dalam kekurangan finansial setelah didera berbagai “mata pelajaran” sehingga sampai seperti saat ini, saya merasakan kekayaan batin yang berlimpah ruah…dan nikmatnya kebersamaan bersama Tuhan seperti anggur yang memabukkan. LUAR BIASA, nggak bisa dilukiskan dalam kata-kata…

Disaat dahulu dimana tersedia material dan finansial yang “cukup”, apa yang ku inginkan atau yang diinginkan anak dan istriku rasanya hampir pasti bisa kupenuhi, namun jujur saja saat itu aku nggak menerima kekayaan batin seperti yang kuterima saat ini. Padahal dulu juga rajin ke tempat ibadah lho 🙂 Nah, yang luar biasa, pelajaran ini sungguh menggatakan bahwa disaat kita merengkuh yang satu, pastilah merenggangkan rengkuhan yang lainnya. Disaat kita rengkuh kejayaan financial, jasmaniah dan keduniawian kita , terlupakanlah / kendorlah akan pencapaian kekayaan spiritual kita.

Kembali kepada pertanyaan temanku diatas, saya sampaikan bahwa aku hidup bukan saja dari akal, jadi kalau hidupku dipikirkan secara akal saja, maka pastilah nggak masuk di akal.  Tetapi ada Iman, harapan dan kasih yang menyelubungi dan terpaut satu sama lain yang saling menguatkan.

Iman, aku berkeyakinan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, jadi kenapa harus kuatir?

Harapan, aku menambatkan harapan yang dalam kepada Tuhan dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, jadi kenapa harus kuatir?

Kasih, kasih adalah perbuatan, perbuatan yang didasarkan pada Harapan dan Iman bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, jadi kenapa harus kuatir?

Pengalaman kehidupan dan pengalaman spiritual tidaklah bisa diceritakan atau diturunkan, tetapi harus dijalani sendiri oleh yang bersangkutan.  Sehingga satu orang yang lain tidaklah tepat untuk memberikan penghakiman (judgement) akan pengalaman kehidupan dan spiritual seseorang yang lainnya, karena pengalaman kehidupan dan pengalaman spiritual setiap orang adalah unik, seperti uniknya Tuhan menciptakan setiap orang di dunia ini, TIDAK ADA YANG SAMA…LUAR BIASA!

Menurut saya, bila kita membicarakan masalah hidup dan kehidupan, hal-hal yang bersifat pengalaman dan spiritualitas, sebaiknya kita lepaskan atribut dan keterikatan kita kepada akal… sebaiknya bersandar pada Iman, Harapan dan KASIH.

Diantara ketiganya (Iman, Harapan dan Kasih), KASIH lah yang terbesar.  Karena Allah sendirilah KASIH itu. Siapa yang berani merasa lebih besar dari Allah?

Bila kita mempunyai ketiga hal diatas, apakah kita masih perlu merasa kuatir?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: