Oleh: kiesaputra | Kamis, 9 Oktober, 2008

Rinduku kepada Ibu

Kala ku turun dari surga ke dunia ini,

Ku berdiam di surga kecil dalam perut ibuku, dimana detak jantung pertama yang kudengan adalah detak jantung ibuku. Desir aliran darah pertama yang kurasakan adalah desiran aliran darahibuku. Desah napas pertama yang kudengar adalah desah napas ibuku. Belaian kasih pertama yang kurasakan adalah belaian kasih ibuku.

Kala ku keluar dari surga kecil di perut ibuku kedunia ini,

Kasih Ibuku sepanjang hidupku

Kasih Ibuku sepanjang hidupku

Yang kudengar adalah rintihan kesakitan ibuku, kurasakan perjuangan hebat ibuku menghantar kehadiranku ke dunia nyata.  Kemudian kurasakan kelembutan payudara ibu yang memberiku sumber makanan pertamaku.  Kurasakan kehangatan belaian tangan halusnya, kehangatan dekapan seorang ibu.

Kala bulan-bulan pertama dalam kehidupanku didunia ini,

Ibuku sering bangun malam hari, karena aku minta disusui. Ibuku menggendongku memberikan penghiburan dan kehangatan da

lam dekapan. Ibukuku mengganti popok ku yang sering basah karena aku mengompol. Tiada kenal siang atau malam, ibuku melindingiku setiap waktu.

Kala ku tumbuh berkembang dan menjadi dewasa, Ibuku selalu mengawasi, memberikan doa dan restunya agar selalu selamat dalam setiap langkah kehidupanku.

Kini, ibuku telah lama tiada, namun kehadirannya masih terasa. Halus dan hangatnya belaian kasihnya masih dapat kurasakan setiap saat.

Ibu, Engkaulah malaikat Tuhan yang nampak yang dikirimkan Tuhan bagiku. Aku yakin, walau sekarang Engkau tidak nampak lagi, tetapi spirit dan kasih sayangmu masih bersamaku selalu.

Terima kasih Ibu, terima kasih Tuhan.

Dari anakmu yang merindukanmu.

Oleh: kiesaputra | Minggu, 10 Agustus, 2008

Apa yang bisa kulakukan untukmu teman?

Tiba-tiba aku merasa kangen yang begitu kuat kepada mereka. Bagaimana keadaan mereka saat ini? Kira-kira apa mereka masih ingat aku? Kalau masih ingat, apakah kira-kira yang mereka harapkan dari aku ya? Apa yang seharusnya bisa aku lakukan untuk mereka tetapi tidak aku lakukan? Hmmmmm… aku jadi merasa nggak enak, telah terlalu egois untuk hanya memikirkan kebutuhan-kebutuhanku sendiri, kebutuhan keluargaku sendiri, kesenanganku sendiri…oh… betapa egoisnya… aku…

Malam ini sambil menulis ini aku putar lagu meditatif “Intouch” melalui Windows Media Player, alunan musik tiupnya membawa jiwaku mengembara ke tempat “antah berantah” yang aku merasa sudah pernah mengunjunginya. Serasa ku berjalan diantara pepohonan, terdengar kicau burung sayup-sayup disekelilingku, damai…damai sekali rasanya…. ya . . . damai… ku berdamai dengan diriku sendiri.

Setelah beberapa hari badanku agak kurang sehat, malas bermeditasi, setelah seharian rasa penat membebani jiwa ragaku, setelah mengalami pertentangan-pertentangan dalam diri ku sendiri, kini rasanya semua rasa penat, beban dan capai menguap begitu saja dan telah dihapuskan dan ditimpa menjadi damai. Tiada rasa ingin lagi untuk mempertentangkan apa apa, rasanya benar-benar nyaman.

Ingatan-ingatan dan perasaan-perasaan masa-masa penuh semangat bersama teman-teman melayani para pasien di Klinik Sosial Paguyuban Sanat Kumara Kedurus Surabaya dan perjalanan-perjalanan melayani ke klinik cabang di kota-kota lain membuat rasa kangen untuk melakukannya lagi setelah sekian lama absen.

Kuingat wajah-wajah para pasien yang pernah berhadapan denganku waktu itu satu persatu hadir dalam ingatanku. Wajah kesakitan, wajah terbeban, wajah keluh kesah, wajah syukur, wajah pasrah. . . hmmmm..

Tiba-tiba aku merasa kangen yang begitu kuat kepada mereka. Bagaimana keadaan mereka saat ini? Kira-kira apa mereka masih ingat aku? Kalau masih ingat, apakah kira-kira yang mereka harapkan dari aku ya? Apa yang seharusnya bisa aku lakukan untuk mereka tetapi tidak aku lakukan? Hmmmmm… aku jadi merasa nggak enak, telah terlalu egois untuk hanya memikirkan kebutuhan-kebutuhanku sendiri, kebutuhan keluargaku sendiri, kesenanganku sendiri…oh… betapa egoisnya… aku…

“Father, Mother God, please take me as an instrument of Your Will”, doa yang dulu setiap hari kupanjatkan ini tiba-tiba muncul kembali dalam ingatanku saat ini.

….tiada terasa waktu sudah menunjukkan pukul 01:33 pagi … akhirnya kupanjatkan doa kepada Tuhan untuk semua orang yang pernah bertemu denganku, semoga mereka semua mendapatkan rasa damai dalam setiap langkahnya mulai saat ini. Juga kukirimkan Distant Healing bagi yang membutuhkannya, semoga Tuhan memberi kesembuhan atas sakit dan luka-lukanya, baik luka fisik maupun batin nya.

Terima kasih Tuhan, masih Engkau beri aku waktu.

.

Oleh: kiesaputra | Jumat, 1 Agustus, 2008

Kampungku. . .

Terobosan RT 2 RW 12 Griya Kebraon Selatan, Kecamatan Karangpilang, cukup berbeda. Karena pengolahan sampah boleh dibilang sudah maksimal, mereka berinovasi pada teknologi dengan memasang CCTV.
KARDONO SETYORAKHMADI
*****************************************************************************************************

KENDATI sudah menyangka, Murtiningsih, ketua PKK RT 2 RW 12, tak bisa menyembunyikan kegembiraan saat tahu kampungnya lolos 50 besar Surabaya Green and Clean 2008. Murtiningsih dan belasan kader lingkungan di kampung berkategori maju itu langsung bersorak-sorai.

Jawa Pos langsung laris. Warga ingin memiliki pengumuman itu,” kata wanita yang akrab dipanggil Bu Sarbini tersebut. Namun, Bu Sarbini sadar bahwa pengumuman itu justru harus memacu kampung untuk terus meningkatkan program lingkungan hidup.

Untuk lomba tahun ini, inovasi yang menjadi andalan kampung itu adalah penggunaan CCTV (closed circuit camera television). Menurut Bu Sarbini, itu disebabkan upaya program lingkungan hidup lainnya sudah mentok.

Soal penghijauan, boleh dibilang warga Griya Kebraon Selatan Gg 7 dan 9 termasuk salah satu yang terbaik di Surabaya. Dengan gapura bermodel natural, lengkap dengan tanaman rambat, sepanjang gang 9 sangat rindang. Kiri kanan gang tersebut penuh tumbuhan. Selain itu, nyaris tak ditemukan sampah sedikit pun.

”Kami punya polisi sampah, yakni anak-anak kecil kampung sini. Mereka dengan sukarela berkeliling dan memunguti sampah yang berceceran di jalan,” ucap Bu Sarbini bangga.

Soal upaya pengolahan sampah pun terbilang sangat maju. ”Reduksi sampah kami sudah 80 persen,” ujarnya. Bu Sarbini mengatakan, sebenarnya bisa dengan mudah mencapai 100 persen, asalkan ada lahan tambahan. ”Total komposter kami belum mampu menampung semuanya,” urainya.

DKP (dinas kebersihan dan pertamanan), imbuh Sarbini, sudah berkomitmen memberikan mesin pemotong sampah. ”Hanya, Pak Lurah belum menemukan lahan untuk mesin itu. Bila mesin tersebut ada, dalam waktu tak lebih dari sebulan, saya yakin bisa 100 persen,” ucapnya yakin.

Pengolahan sampah kering juga sudah dilakukan. Bahkan, dalam skala kecil, industri mendaur ulang sampah kering menjadi tas dan sejumlah kerajinan lain sudah ada. ”Namun, itu tak bisa menjadi unggulan. Sebab, kami pasti tertinggal bila dibandingkan dengan Jambangan,” ungkapnya.

Akhirnya, inovasi jatuh pada penggunaan CCTV yang merupakan sumbangan dari salah seorang warga. Saat ini, di RT itu, ada empat kamera yang menyorot terus-menerus kondisi kampung. Dua di gang 7, satu di gang 9, dan satu lagi di gang AF. Semuanya masuk wilayah RT 2. Pos pantaunya ada di pos keamanan RT 2 RW 12. Dengan mesin perekam berkapasitas 40 gigabyte, rekaman tersebut bisa dijalankan selama sebulan.

Cynthia menunjukkan isi mini bioster untuk rumah tangga

Cynthia menunjukkan isi mini bioster untuk rumah tangga

”Ini penting untuk mengetahui siapa yang membuang sampah sembarangan. Dengan ini, yang membuang sampah tak bisa mengelak,” katanya.

Maklum, sanksinya lumayan berat untuk pembuang sampah di sana. Selain ditegur oleh kader lingkungan, si pembuang sampah tak bisa mendapatkan kucuran kredit dari kas PKK yang nilainya lumayan besar. Dengan total omzet Rp 40 juta, seorang warga bisa mendapatkan kredit lunak hingga Rp 1,5 juta yang bisa dicicil hingga 10 bulan.

Selain itu, kegunaan CCTV tersebut sangat penting untuk keamanan lingkungan. ”Siapa pun yang berbuat jahat pasti teridentifikasi,” tuturnya. Maka, dengan pemasangan CCTV, selain membuat lingkungan bersih, maling pun jadi grogi. (*/dos)

Sumber : Jawa Pos, 1 Agustus 2008 (http://www.jawapos.co.id/)

Oleh: kiesaputra | Kamis, 31 Juli, 2008

Iman, Harapan dan Kasih

Pengalaman kehidupan dan pengalaman spiritual tidaklah bisa diceritakan atau diturunkan, tetapi harus dijalani sendiri oleh yang bersangkutan.  Sehingga satu orang yang lain tidaklah tepat untuk memberikan penghakiman (judgement) akan pengalaman kehidupan dan spiritual seseorang yang lainnya, karena pengalaman kehidupan dan pengalaman spiritual setiap orang adalah unik, seperti uniknya Tuhan menciptakan setiap orang di dunia ini, TIDAK ADA YANG SAMA.

Suatu sore temanku datang kerumah, seperti biasanya kami ngobrol mulai dari bisnis MLM yang ditawarkan kepadaku sampai pada hal-hal lain yang sedikit menyerempet pada keyakinan dan pengalaman hidup masing-masing.

Temanku bilang, ” Pak, aku lihat kehidupan sampeyan sekarang ini rasanya nggak masuk akal bagiku, kok  sampeyan masih bisa bertahan dalam kondisi seperti ini. Dulu pendapat rutin yang “cukup” masuk setiap bulan, sekarang…….? Tapi herannya sampeyan juga masih bisa makan, anak anak juga masih sekolah disekolah swasta yang ‘bisa dibanggakan’ dengan SPP yang nggak bisa dikatakan murah juga.  Nggak masuk akal…nggak masuk akal…, piye…piye…?”

Hmm… pertama-tama saya megucapkan syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang telah memberi saya kesempatan untuk menjalani “pelajaran” yang sangat berharga ini, dimana dalam fase pelajaran ini saya baru benar-benar bisa merasakan keindahan rahmat Tuhan.  Di dalam kekurangan finansial setelah didera berbagai “mata pelajaran” sehingga sampai seperti saat ini, saya merasakan kekayaan batin yang berlimpah ruah…dan nikmatnya kebersamaan bersama Tuhan seperti anggur yang memabukkan. LUAR BIASA, nggak bisa dilukiskan dalam kata-kata…

Disaat dahulu dimana tersedia material dan finansial yang “cukup”, apa yang ku inginkan atau yang diinginkan anak dan istriku rasanya hampir pasti bisa kupenuhi, namun jujur saja saat itu aku nggak menerima kekayaan batin seperti yang kuterima saat ini. Padahal dulu juga rajin ke tempat ibadah lho :) Nah, yang luar biasa, pelajaran ini sungguh menggatakan bahwa disaat kita merengkuh yang satu, pastilah merenggangkan rengkuhan yang lainnya. Disaat kita rengkuh kejayaan financial, jasmaniah dan keduniawian kita , terlupakanlah / kendorlah akan pencapaian kekayaan spiritual kita.

Kembali kepada pertanyaan temanku diatas, saya sampaikan bahwa aku hidup bukan saja dari akal, jadi kalau hidupku dipikirkan secara akal saja, maka pastilah nggak masuk di akal.  Tetapi ada Iman, harapan dan kasih yang menyelubungi dan terpaut satu sama lain yang saling menguatkan.

Iman, aku berkeyakinan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, jadi kenapa harus kuatir?

Harapan, aku menambatkan harapan yang dalam kepada Tuhan dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, jadi kenapa harus kuatir?

Kasih, kasih adalah perbuatan, perbuatan yang didasarkan pada Harapan dan Iman bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, jadi kenapa harus kuatir?

Pengalaman kehidupan dan pengalaman spiritual tidaklah bisa diceritakan atau diturunkan, tetapi harus dijalani sendiri oleh yang bersangkutan.  Sehingga satu orang yang lain tidaklah tepat untuk memberikan penghakiman (judgement) akan pengalaman kehidupan dan spiritual seseorang yang lainnya, karena pengalaman kehidupan dan pengalaman spiritual setiap orang adalah unik, seperti uniknya Tuhan menciptakan setiap orang di dunia ini, TIDAK ADA YANG SAMA…LUAR BIASA!

Menurut saya, bila kita membicarakan masalah hidup dan kehidupan, hal-hal yang bersifat pengalaman dan spiritualitas, sebaiknya kita lepaskan atribut dan keterikatan kita kepada akal… sebaiknya bersandar pada Iman, Harapan dan KASIH.

Diantara ketiganya (Iman, Harapan dan Kasih), KASIH lah yang terbesar.  Karena Allah sendirilah KASIH itu. Siapa yang berani merasa lebih besar dari Allah?

Bila kita mempunyai ketiga hal diatas, apakah kita masih perlu merasa kuatir?

Oleh: kiesaputra | Kamis, 24 Juli, 2008

Anakmu bukanlah dirimu

Memperingat Hari Anak Nasional 2008 ini, ada baiknya sebagai orang tua kita renungkan kata-kata dari seorang Sufi tersohor, Kahlil Gibran.

Anakmu bukanlah milikmu

Amanat bagi orang tua

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu.

Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu.

Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu.

( Kahlil Gibran – http://kahlil-gibran.cn/Content/khalil.asp)

Terkadang kita tidak sadar dan menganggap bahwa semua yang ada di dalam rumah kita adalah milik kita, kita terikat akan semua yang ada di dalam rumah kita. Meja, kursi, lemari, televisi, kulkas, motor, mobil dan bahkan sering pula kita mengklaim bahwa anak-anak kita adalah milik kita, yang harus mengikuti segala kehendak kita. Anak-anak harus menurut 100% tanpa ampun, tentunya tujuan kita adalah demi kebaikan dan keselamatan mereka. Sering kita menjadi otoriter dalam mendidik dan mengembangkan anak, seolah-olah anak-anak adalah suatu obyek yang tidak mempunyai pemikiran dan kehidupannya sendiri. Kita sering lupa!

Fakta yang ada bahwa kita tidak pernah tahu seorang anak akan menjadi apa di masa mendatang, tetapi kita tahu bahwa apa yang dapat kita lakukan demi perkembangan mereka.

Sering kita merampas hak anak untuk bermain – karena dunia anak identik dengan bermain – dengan membebani mereka dengan berbagai macam jenis les yang menyita waktu bermain mereka. Harapan kita kita akan menjadikan mereka orang yang seba bisa, serba mampu dan yang paling penting tidak memalukan keluarga! Anak menjadi korban ambisi orang tuanya!

Ada banyak sekali contoh yang menurut saya merampas kebebasan anak-anak untuk berkembang melalui tahap-tahap yang seharusnya, silakan direnungkan dan direnungkan lagi…

Harapan saya, biarlah anak-anak memiliki dan menjadi dirinya sendiri. Kita sebagai orang tua sebagai pendamping dan pengaman yang bijaksana.

Mari kita cari sendiri formulasi yang paling pas dan paling cocok untuk anak-anak kita, karena mereka masing-masing unik adanya.

Semoga. . .

Oleh: kiesaputra | Kamis, 24 Juli, 2008

Bebaskan dengan cinta

Ketakutan adalah hal terbesar yang harus hilang dari muka bumi ini, hilang dari kehidupan kita semua. Karena ketakutan itu menjauhkan, menghancurkan, tidak memberikan kita peluang untuk mencoba. Ketakutan itu mengancam suatu pencapaian!

Sore tadi habis magrib saya meluncur ke rumah teman senior di kawasan Kedurus Sawah Gede Surabaya untuk memenuhi janji saya membantu memeriksa software anti virus nya yang nggak mau beroperasi dengan baik. Eh.. ndilalah, dah ada juga teman senior lainnya yang lagi berkunjung juga. Setelah otak-atik komputernya, kemudian kami berempat duduk duduk santai sambil ngobrol.

Ngobrol ngalor-ngidul seperti biasanya tetapi topik tetap seputar pemberdayaan dan pengembangan kesadaran. Yah maklum yang ngumpul kan dah senior-senior he he he, apalagi beliau beliau itu para master di bidang Reiki Kundalini dan Shamballa MDH, jadi diskusinya ngggak jauh dari sekitar hal-hal berbau spiritual gitu deh… saya aja yang masih junior bisa nya cuma tolah..toleh :-)

Saya lemparkan pertanyaan ” Apakah benar kita harus takut sama Tuhan?”

Ada ilustrasi perasaan negatif begini, kalau kita takut naik sepeda, maka kita tidak akan belajar naik sepeda. Kalau kita takut berbuat kesalahan, maka kita tidak akan pernah mencoba. Kalau takut sama listrik, kita nggak akan jadi tukang listrik. Kalau kita takut sama ayah yang galak, maka kita akan berusaha menghindari nya. Kalau kita takut akan Tuhan, apakah kita akan mendekatinya?????

Bandingkan dengan ilustrasi perasaan positif ini, kalau saya suka naik sepeda, maka saya akan berusaha agar bisa segera mengendarainya sendiri. Kalau saya menyukai hal-hal baru, maka saya selalu mencoba hal-hal baru. Kalau saya suka dengan kedasyatan energi listrik, maka saya akan bereksperimen dengan listrik sedemikian rupa. Kalau saya suka sama ayahku, maka saya akan selalu merasa aman dan nyaman berada di dekat beliau. Kalau saya senang bersama Tuhan, maka saya …. akan PATUH pada-Nya!

Bukankah demikian? bebaskan ketakutan dengan kekuatan cinta, dengan perasaan-perasaan yang positif. Patuhlah pada Tuhan, jangan engkau Takut!

JADILAH BERANI ! BERANI UNTUK BEBAS DARI KETAKUTAN. BEBASKAN DIRI DENGAN KEKUATAN CINTA.

Semoga….

Oleh: kiesaputra | Kamis, 24 Juli, 2008

Kekuatan Cinta . . .

Tulisan dibawah ini bukanlah tulisan original dari saya, tetapi saya merasa tersentuh, juga meneruskan amanat dari teman untuk menyebarluaskan semangat cinta yang patut untuk direnungkan ini.

Semoga kisah nyata ini memberikan siraman bagi jiwa kita. Saya mengucapkan syukur mendapat kesempatan untuk membaca dan merenungkan isinya, semoga Anda juga!

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.. mereka menikah sudah lebih 32 tahun.

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak Suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk Ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan Ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu … semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat Ibu semenjak kami kecil melihat Bapak merawat Ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir Bapak. … bahkan Bapak tidak ijinkan kami menjaga Ibu”. dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan Bapak menikah lagi, kami rasa Ibupun akan mengijinkannya, kapan Bapak menikmati masa tua Bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat Bapak, kami janji kami akan merawat Ibu sebaik-baik secara bergantian …” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak2 mereka.”Anak2ku … Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin Bapak akan menikah … tapi ketahuilah dengan adanya Ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian … sejenak kerongkongannya tersekat … kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun.

Coba kalian tanya Ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan Bapak bahagia, apakah batin Bapak bisa bahagia meninggalkan Ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan Bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan Ibumu yg masih sakit.”

Sejenak meledaklah tangis anak2 Pak Suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata Ibu Suyatno … dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat sendiri Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.

“Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu2 …

Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama … dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…”

PESAN DARI TEMAN YANG MEMBERIKAN CERITA INI KEPADA SAYA:

BILA ANDA MERASA BAHAN RENUNGAN INI SANGAT BERMANFAAT BAGI ANDA DAN BAGI ORANG LAIN, MOHON KIRIM KE TEMAN, FAMILY DAN KERABAT ANDA LAINNYA SEMOGA BERMANFAAT

Oleh: kiesaputra | Selasa, 20 Mei, 2008

Indonesia, Bangkitlah !

Di saat memperingati 100 th Kebangkitan Nasional ini, melihat kondisi negeriku tercinta yang carut marut ini, namun ku tetap bangga sebagai anak negeri.

Kepada negeri ku tercinta dan kepada anak-anak negeri yang masih bangga sebagai anak negeri, kupersembahkan sebuah lagu ciptaan Ibu Sud.

Mari Bangkit menuju Indonesia MAKMUR, menjadi Negeri yang GEMAH RIPAH LOH JINAWI, PASTI BISA !!!

Tanah Airku

Karangan / Ciptaan : Ibu Sud

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang

Tanahku tak kulupakan

Engkau kubanggakan

– *** –

Oleh: kiesaputra | Jumat, 16 Mei, 2008

Ketika Wanita Menangis

Sore ini, ketika lagi berdiskusi dengan partner di Kediri melalui YM, tiba-tiba dikejutkan munculnya popup pemberitahuan datangnya email. Setelah email kubuka, hmmm… kutarik napas dalam-dalam, satu persatu dan menjadi tumpang tindih satu sama lain kenanganku bersama wanita-wanita yang dekat sekali denganku maupun yang pernah kulihat disekitarku muncul bersliweran.

Araceli Herrera

Photo Credit: Araceli Herrera

Aku ingat nenekku almarhum di Bendo Blitar, dan di Jatimalang, ibuku almarhum, bude budeku, bulik bulik ku, kakak dan adik perempuan ku, teman sekolah ku, pacarku dulu, istriku, juga mbok mbok mlijo…. dan semua wanita yang pernah kulihat.

Wajah-wajah mbah-mbah dan ibu-ibu yang kemarin dulu aku lihat antri minyak tanah, ibu-ibu yang kulihat di TV yang menangis mempertahankan warung kaki lima nya digusur bapak-bapak Satpol PP, semua terlempar dalam ingatanku…

Aku sangat menghargai dan menghormati makhluk Tuhan yang satu ini, WANITA. Karena dari sinilah kehidupanku di mulai. Masih mau kurang ajar kepada nya…??

Penghargaan yang tulus, juga kusampaikan kepada pencipta puisi ini – sekaligus mohon ijin untuk memuatnya disini - dan semua saja yang mengirimkan sehingga sampai ke tanganku. Semoga puisi atau apapun namanya ini dapat menggetarkan sanubari kita dan menbawa kesadaran kita setingkat keatas.

Ketika Wanita Menangis

Jika seorang wanita menangis dihadapanmu,

Itu berarti dia tak dapat menahannya lagi.

Jika kamu memegang tangannya saat dia menangis,

Dia akan tinggal bersamamu sepanjang hidupmu.

Jika kamu membiarkannya pergi,

Dia tidak akan pernah kembali lagi menjadi dirinya yang dulu.

Selamanya….

Seorang wanita tidak akan menangis dengan mudah,

Kecuali didepan orang yang amat dia sayangi. Dia menjadi lemah.

Seorang wanita tidak akan menangis dengan mudah,

Hanya jika dia sangat menyayangimu, Dia akan menurunkan rasa egoisnya.

Lelaki, jika seorang wanita pernah menangis karenamu,

Tolong pegang tangannya dengan pengertian.

Dia adalah orang yang akan tetap bersamamu sepanjang hidupmu.

Lelaki, jika seorang wanita menangis karenamu.

Tolong jangan menyia-nyiakannya.

Mungkin karena keputusanmu, kau merusak kehidupannya.

Saat dia menangis didepanmu, Saat dia menangis karnamu,

Lihatlah matanya….

Dapatkah kau lihat dan rasakan sakit yang dirasakannya?

Pikirkan….

Wanita mana lagikah yang akan menangis dengan murni, penuh rasa sayang,

Didepanmu dan karenamu……

Dia menangis bukan karena dia lemah

Dia menangis bukan karena dia menginginkan simpati atau rasa kasihan

Dia menangis,

Karena menangis dengan diam-diam tidaklah memungkinkan lagi.

Lelaki

Pikirkanlah tentang hal itu

Jika seorang wanita menangisi hatinya untukmu,

Dan semuanya karena dirimu.

Inilah waktunya untuk melihat apa yang telah kau lakukan untuknya,

Hanya kau yang tahu jawabannya….

Pertimbangkanlah

Karena suatu hari nanti

Mungkin akan terlambat untuk menyesal,

Mungkin akan terlambat untuk bilang ‘MAAF’!!

Oleh: kiesaputra | Rabu, 7 Mei, 2008

Buat alasan untuk Tuhan yuk …

Sering saya merenungkan bahwa Tuhan pasti telah menyediakan lebih daripada cukup segala kebutuhan yang kita butuhkan dalan hidup ini. Tetapi kenapa masih saja terjadi kekurangan dan kemiskinan disana sini? Apa yang salah dengan semuanya ini?

Satu setengah tahun yang lalu seorang teman yang masih muda datang pada saya menceritakan rencananya untuk membuka usaha sewa DVD/VCD Original, tetapi dalam hati dan pikirannya merasa tidak enak, karena nanti pasti akan menyaingi usaha tetangga sebelahnya yang telah menyewakan DVD/VCD Original terlebih dulu. Sementara teman muda ini ingin sekali keluar dari kungkungan pekerjaanya sebagai sopir taksi yang telah digeluti selama ini dirasakan kurang memberinya ruang gerak yang leluasa untuk mengembangkan pendapatannya.

Pada waktu itu saya sampaikan kepada beliau hal begini, “Mas sampeyan pernah ke pasar ?”.

“Ya pernah to Om”, katanya sambil tersenyum

“Disamping kiri dan kanan salah satu penjual buah, ada penjual apa mas?, tanya saya

“Ya penjual buah”, jawabnya

“Ada berapa di sebelah kiri dan berapa di sebelah kanannya?”, lanjut saya

“Wah nggak tahu Om, yang jelas banyak”,jawabnya. “Ya..ya..ya Om, saya tahu maksudnya”, sahutnya kemudian.

“Ya, mas. Meskipun mereka berjejer jejer menjual buah, tapi masing-masing tetap ada yang membeli kan?”, tanya saya.

“Nah kenapa ragu? Tugas kita kan membuatkan alasan (baca: sarana) bagi Sang Pemberi Rejeki agar dapat menyalurkan rejekiNya kepada kita masing masing to”, timpal saya

Sekarang, bermula dari usaha sewa DVD/VCD nya berkembang ke usaha Sewa Mobil dan akan berkembang ke Travel dan tiketing, sekarang juga telah merambah dan bertambah lagi ke usaha MPG (Multi Player Game) online.

Sudahkah kita membuatkan “sesuatu” agar Tuhan punya alasan (baca: sarana) untuk menyalurkan rejekinya kepada kita ?

Kunjungi Link yang dirujuk dalam tulisan ini:

Tulisan Sebelumnya »

Kategori